Suara Lintas Generasi dan Gender: Merajut Kekuatan Baru Serikat Pekerja Nusantara Power (SPNP)

Dinamika hubungan industrial di sektor ketenagalistrikan menuntut adaptasi dan soliditas yang tidak biasa. Dalam sebuah forum komunikasi organisasi Serikat Pekerja Nusantara Power (SPNP), tiga narasumber (Pak Fahmi, Mbak Nanda dan Mas Rizky) yang merepresentasikan suara dari latar belakang lintas generasi dan gender hadir guna membedah urgensi keterlibatan aktif dalam serikat.

Diskusi ini menegaskan bahwa masa depan SPNP sebagai wadah perlindungan pekerja hanya bisa dijaga melalui persatuan lintas generasi dan pengawalan kebijakan yang inklusif.

Pak Fahmi, sebagai perwakilan Pekerja senior di perusahaan, memaparkan bahwa kontribusi para pekerja senior di dalam serikat

didasari oleh rekam jejak pengalaman panjang sejak awal masuk hingga mencapai jenjang karier saat ini. Pengalaman tersebut bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan referensi penting untuk memperbaiki keharmonisan hubungan industrial serta mencegah terulangnya kesalahan yang sama antara serikat dan manajemen. Selain itu, kehadiran pengurus senior dinilai krusial untuk membangun komunikasi yang setara (peer-to-peer) saat berhadapan dengan level manajemen yang umumnya juga diisi oleh para pekerja senior sebagai pemangku kebijakan.

Dari sudut pandang representasi pekerja perempuan, Mbak Nanda menyoroti tantangan nyata ketimpangan gender di dunia kerja, mulai dari partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia yang masih berada di angka 32,52%, kesenjangan upah rata-rata 17% lebih rendah dari laki-laki, hingga minimnya keterwakilan di posisi manajerial. Di Nusantara Power sendiri, populasi pekerja perempuan tercatat masih di angka 13% berbanding 87% laki-laki.

Keterlibatan perempuan dalam serikat bukan sekadar pelengkap, melainkan kunci untuk mendorong produktivitas, inovasi, pemenuhan target ESG (*Environmental, Social, and Governance*), serta terciptanya lingkungan kerja yang inklusif.

Serikat juga terus mendesak implementasi standar global seperti Konvensi ILO 190 guna mewujudkan tempat kerja yang aman dari segala bentuk kekerasan dan pelecehan baik fisik maupun nonfisik yang mencakup pekerja, peserta pelatihan, hingga pihak ketiga. Di samping itu, serikat aktif memperjuangkan isu-isu krusial seperti penyetaraan fasilitas kesehatan keluarga, penyediaan Alat

Pelindung Diri (APD) yang ramah perempuan, hingga fasilitas ruang ganti yang layak di unit-unit operasional.

Mewakili suara generasi baru, Mas Rizky membawa perspektif segar mengenai alasan kaum muda harus aktif bergabung dan mengambil peran di dalam serikat.

Sebagai generasi dengan masa kerja yang masih sangat panjang, pekerja muda akan menghadapi turbulensi aturan dan dinamika perusahaan yang terus berubah dari tahun ke tahun. Selain posisi rentan sebagai pihak yang “terakhir direkrut namun paling awal terdampak” efisiensi, pekerja muda juga dihadapkan pada tantangan riil berupa penurunan daya beli.

Jika dibandingkan dengan beberapa dekade lalu, rasio pendapatan terhadap kemampuan membeli aset seperti properti atau rumah dirasakan semakin kecil. Solidaritas kaum muda di dalam serikat menjadi harga mati agar mereka tidak tergerus oleh persaingan kerja yang tidak sehat dan memiliki posisi tawar yang sejajar di hadapan manajemen.

Rangkaian pandangan dari Pak Fahmi, Mbak Nanda, dan Mas Rizky menyimpulkan satu benang merah, bahwa tantangan hubungan industrial hari ini tidak bisa dihadapi secara sendiri-sendiri. Perbedaan usia, gender, dan masa kerja justru menjadi kekuatan kolektif yang saling melengkapi di bawah payung organisasi.

Mari rapatkan barisan, hilangkan keraguan, dan perkuat solidaritas di dalam Serikat Pekerja Nusantara Power (SPNP) demi perlindungan hak, keadilan, dan masa depan kerja yang lebih baik untuk kita semua.

Leave a comment

Go to Top